Rumpun
Kawasan MRMP, Ikon Baru Wisata Budaya Kabupaten Ponorogo

PABIASA.COM, Surabaya – Kabupaten Ponorogo, yang selama ini dikenal dengan kekayaan pertaniannya, kini tengah bertransformasi untuk mengembangkan sektor pariwisata budaya.
Bupati Ponorogo, Sugiri Sancoko, menyatakan komitmennya untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi daerah melalui berbagai sektor, dengan fokus utama pada pariwisata budaya.
“Kami berusaha menumbuhkan Kabupaten Ponorogo, tetapi di luar pertanian. Pertanian memang andalan kami, tetapi sebagai pemimpin di Ponorogo, kami berusaha untuk melakukan percepatan di berbagai sektor,” ujar Sugiri di Surabaya, Minggu (28/7/2024).
Sugiri menekankan pentingnya menjaga warisan budaya leluhur, seperti budaya santri dan kesenian Reog Ponorogo, sebagai upaya memberikan ruh yang terus hidup bersama masyarakat Ponorogo. Salah satu proyek besar yang tengah dalam proses pembangunan adalah Monumen Reog dan Museum Peradaban (MRMP) di Gunung Giri Seto, Desa Sampung, Kecamatan Sampung.
“Kami tengah dalam progres pembangunan Monumen Reog yang sudah mencapai 61 persen. Monumen dengan tinggi total 126 meter ini ditargetkan selesai pada Desember 2024,” terangnya.
Monumen Reog tersebut terdiri atas 26 lantai, di mana lantai 1-14 adalah gedung, sementara lantai 15-26 adalah patung reog itu sendiri. Dari total tinggi monumen 126 meter, patung reog tingginya mencapai 60 meter dan lebarnya 31 meter.
Sugiri optimis, monumen reog akan menjadi daya tarik wisata baru yang akan mengundang banyak pengunjung ke Ponorogo. Kawasan MRMP sendiri berdiri di lahan seluas 29 hektare dan diharapkan menjadi ikon wisata baru di Ponorogo.
Selain Monumen Reog dan Museum Peradaban, kawasan tersebut juga akan dilengkapi dengan berbagai fasilitas hiburan seperti taman dan lainnya di sekitar lokasi.
“Monumen Reog dan Museum Peradaban nantinya menjadi calon ikon wisata baru di Kabupaten Ponorogo,” tambahnya.
Lebih lanjut, Sugiri menjelaskan, kesenian Reog Ponorogo akan diakui oleh United Nations Educational, Scientific, and Cultural Organization (UNESCO) sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTB) pada Desember mendatang.
“Utamanya, pembangunan ini adalah pembangunan yang berbasis kebudayaan dengan memperhatikan lingkungan. Sehingga budaya kita lestari, pembangunan dapat berkelanjutan, dan kita tetap dapat menjaga lingkungan,” tegasnya.
Sugiri meyakini, pembangunan yang berkelanjutan dan berbasis kebudayaan ini akan memberikan manfaat jangka panjang bagi masyarakat Ponorogo.
Dengan adanya Monumen Reog dan Museum Peradaban, Sugiri berharap dapat membuka peluang ekonomi baru, menciptakan lapangan kerja dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Ia mengajak seluruh masyarakat Ponorogo untuk mendukung proyek tersebut agar bisa berjalan lancar dan sesuai target.
“Pembangunan ini bukan hanya tentang fisik bangunan, tetapi juga tentang semangat dan identitas kita sebagai warga Ponorogo. Mari kita jaga dan lestarikan warisan budaya kita, sambil terus berinovasi untuk kemajuan daerah,” pungkasnya. (yl/s3)
Rumpun
Direktur RSUD dr. Moh. Anwar Sumenep: Ramadan Mengajarkan Kita Jadi Pribadi Sederhana

PABIASA.COM, Sumenep – Direktur Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Dr. H. Moh. Anwar Sumenep, dr. Erliyati, tampak anggun dan elegan dengan balutan busana sederhana.
Hal itu tampak dalam acara bukan bersama yang digelar Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sumenep, Jawa Timur dengan tokoh agama, tokoh masyarakat, jajaran pejabat, serta tamu undangan di Pendopo Agung Keraton, Jumat (27 /2/2026).
Kegiatan tersebut menjadi momentum silaturahmi dalam memperkuat sinergi menuju Sumenep yang bermartabat dan religius.
Menurut dr. Erliyati, puasa Ramadan mengajarkan akan pentingnya kesederhanaan dan kebersamaan dalam menjalani kehidupan, terutama dalam memajukan Kabupaten Sumenep.
“Puasa Ramadan mengajak kita jadi pribadi yang sederhana, pribadi yang dapat merasakan apa yang dirasakan oleh saudara-saudara kita,” ujarnya.
Sementara itu, Bupati Sumenep, Achmad Fauzi Wongsojudo, menyampaikan bahwa silaturahmi yang dikemas dalam buka bersama ini menjadi sarana strategis untuk mempererat ukhuwah.
“Alim ulama, tokoh agama dan tokoh masyarakat memiliki peran strategis dalam menjaga persatuan, kerukunan serta stabilitas sosial di tengah masyarakat,” ujar Fauzi.
Ia menegaskan, sinergi antara pemerintah daerah dan para tokoh masyarakat merupakan fondasi penting dalam menciptakan kehidupan sosial yang harmonis dan damai.
“Pemerintah daerah sangat membutuhkan doa dan dukungan para alim ulama serta tokoh masyarakat, agar setiap pelaksanaan program pembangunan bisa memberikan manfaat bagi masyarakat,” tandasnya. (mns/s3)
Rumpun
Libur Nataru, Wisatawan Padati Destinasi dan Penginapan di Banyuwangi

PABIASA.COM, Banyuwangi – Kabupaten Banyuwangi tetap menjadi pilihan bagi wisatawan untuk menghabiskan liburan selama libur Natal dan Tahun Baru (Nataru). Penginapan, baik hotel maupun homestay, serta berbagai destinasi wisata di Banyuwangi dipadati wisatawan.
“Alhamdulillah masa liburan sekolah dan Nataru kali ini Banyuwangi tetap menjadi pilihan wisatawan untuk berlibur. Ini membawa berkah bagi masyarakat Banyuwangi. Semua destinasi wisata ramai. Hotel hingga homestay juga penuh, bahkan ada yang full booked sampai awal 2026,” ujar Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani, Sabtu (27/12/2025).
Ipuk juga mengingatkan para pelaku wisata, baik penginapan maupun destinasi, untuk terus memberikan pelayanan yang terbaik kepada wisatawan.
“Pemkab juga telah menerjunkan tim monitoring yang bertugas melakukan pengecekan rutin ke seluruh destinasi wisata,” jelasnya.
Sebelumnya, Pemkab Banyuwangi melakukan berbagai persiapan aspek hospitality menyambut libur Nataru. Seluruh Pokdarwis sudah berkonsolidasi dengan pemkab. Mulai dari kesiapan destinasi, atraksi wisata, hingga antisipasi lonjakan pengunjung.
Sejak masa libur sekolah mulai, Senin (22/12/2025) hingga Jumat (26/12/2025), keterisian hunian hotel meningkat. Rata-rata okupansi hotel tercatat di kisaran 83 hingga 100 persen. Bahkan, beberapa hotel dan vila telah fully booked hingga awal Januari 2026.
“Kamar kami sudah fully booked sejak awal Desember 2025 hingga 3 Januari 2026. Mayoritas tamu berasal dari luar kota,” ujar Executive Marketing Villa So Long, Imam Solehan.
Para wisatawan juga terlihat mengunjungi sejumlah wisata di wilayah kota. Salah satunya Putri, wisatawan asal Surabaya, yang sedang menikmati Pantai Pulau Santen.
“Banyuwangi tetap jadi pilihan liburan, selalu ada yang baru. Seperti Pulau Santen yang saya lihat di Tiktok. Saya tertarik ke sini sama keluarga. Pantainya rindang dan relatif bersih,” ujar Putri.
Plt Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Banyuwangi, Taufik Rohman, mengatakan berdasarkan data sejumlah hotel bahkan mencatat okupansi maksimal.
Lintang Luku Resort dan Teras Hotel okupansinya mencapai 100 persen. Disusul Hotel Ketapang Indah dan Surya Jajag masing-masing 99 persen, Hotel Kokoon 87 persen, El Hotel 83 persen, dan Ilira 82 persen.
“Termasuk hunian homestay juga mengalami peningkatan,” kata Taufik.
Menurutnya, wisatawan yang datang, baik domestik maupun mancanegara, untuk menghabiskan libur akhir tahun di Banyuwangi.
Lonjakan kunjungan juga tercatat di hampir seluruh destinasi wisata. Bahkan, peningkatan pengunjung sudah terjadi sejak awal libur sekolah pada 22 Desember 2025.
“Rata-rata destinasi mengalami kenaikan kunjungan hingga 100 persen. Sejak 22 hingga 25 Desember kunjungan beberapa destinasi berdasarkan tiket masuk mencapai 21.553 pengunjung. Itu masih belum semua data masuk. Jumlah kunjungan akan terus meningkat hingga tahun baru,” jelasnya.
Seperti di kawasan wisata Ijen, yang menawarkan berbagai daya tarik, mulai dari Kawah Ijen, Taman Gandrung Terakota, Banyu Kuwung, Pemandian Alam Jopuro, Sendang Seruni, dan lainnya dalam tiap hari dikunjungi ribuan pengunjung.
“Tercatat selama lima hari (22-27 Desember 2025) wisatawan yang naik Ijen hampir 5 ribu wisatawan,” kata Taufik.
Demikian juga kunjungan destinasi lainnya seperti Pantai Grand Watu Dodol, Pantai Cacala, Pantai Pulau Merah, hingga Pulau Bedil juga meningkat. (ar/s3)
Rumpun
Deteksi Dini Konflik Sosial, FKUB Sumenep Gelar Pelatihan Early Warning System

PABIASA.COM, Sumenep – Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kabupaten Sumenep menggelar pelatihan Early Warning System (EWS) konflik berdimensi agama, Rabu (24/12/2025). Kegiatan ini untuk memperkuat kapasitas deteksi dini dan pencegahan konflik sosial berbasis keagamaan di wilayah Kabupaten Sumenep.
Hadir dalam pelatihan tersebut, Wakil Bupati Sumenep KH. Imam Hasyim, Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Sumenep, H. Abdul Wasid, jajaran Forkopimda, Kepala Bappeda, seluruh penyuluh agama lintas iman se-Kabupaten Sumenep, serta perwakilan organisasi kemasyarakatan, akademisi dan mahasiswa.
Ketua FKUB Sumenep, KHR. Achmad Qusyairi Zaini, menegaskan, kerukunan umat beragama bukanlah kondisi yang hadir secara alamiah, melainkan hasil dari kesadaran, pengelolaan dan tanggung jawab bersama seluruh elemen masyarakat.
“Kerukunan bukan sesuatu yang terjadi dengan sendirinya. Ia harus dirawat, dijaga dan disadari bersama. Perbedaan adalah takdir, dan persatuan adalah ikhtiar,” ujar Kiai Qusyai, sapaan akrabnya.
“Setiap konflik berdimensi agama selalu diawali oleh kegagalan kita membaca tanda-tanda sosial dan kegagalan kita berdialog sejak awal,” imbuhnya.
Ia menambahkan, keberagaman agama adalah realitas sekaligus amanah kebangsaan yang menuntut kedewasaan dalam bersikap. Menurutnya, Early Warning System bukan sekadar instrumen teknis, tetapi juga sikap batin dalam melihat perbedaan secara adil dan manusiawi.
“Pluralitas adalah kehendak sejarah dan kehendak Tuhan. Karena itu, tugas kita bukan menyeragamkan keyakinan, tetapi memastikan perbedaan tidak berubah menjadi permusuhan. Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Buddha dan Kong Hu Cu hadir dengan bahasa iman yang berbeda, namun semuanya berujung pada satu nilai agung, yaitu perdamaian,” jelasnya.
“Ketika agama dijadikan alasan untuk saling mencurigai, di situlah kewajiban negara dan masyarakat untuk hadir menjaga martabat kemanusiaan,” lanjutnya.
Politisi PDIP itu menekankan, pencegahan konflik harus bertumpu pada dialog, etika dan kepekaan sosial lintas iman, bukan pada pendekatan reaktif yang justru memperlebar jarak antarumat beragama.
“FKUB berdiri untuk memastikan bahwa perbedaan iman tidak melahirkan ketegangan, tetapi menjadi sumber kebijaksanaan sosial. Deteksi dini berarti keberanian untuk mendengar, memahami, dan menyelesaikan persoalan sebelum membesar. Maka hari ini, dari Sumenep, kita nyatakan dengan tegas bahwa perdamaian bukan pilihan tambahan, melainkan kewajiban kebangsaan. Dan sesungguhnya hidup rukun adalah ibadah kemanusiaan,” terangnya.
Sementara itu, Wakil Bupati Sumenep, KH. Imam Hasyim, mengapresiasi peran FKUB sebagai mitra strategis pemerintah daerah dalam menjaga stabilitas dan keharmonisan sosial. Ia menegaskan, pembangunan daerah hanya dapat berjalan optimal di atas fondasi kerukunan dan persatuan.
Melalui pelatihan ini, FKUB Sumenep berharap terbangun jejaring lintas agama dan lintas sektor yang semakin solid dalam merespons potensi konflik secara cepat, tepat, dan berkeadaban, demi terwujudnya kehidupan masyarakat Sumenep yang damai, inklusif dan berkeadilan. (rzl/s3)
Pemerintahan2 tahun agoDishub Jatim Targetkan Trans Jatim Koridor V Beroperasi, Mahfud Harap Ada Pembenahan Terminal
Rumpun2 tahun agoCegah Efek Negatif Nikah Usia Dini, Mahfud Minta Pemprov Jatim Gencarkan Sosialisasi
Pemerintahan2 tahun agoSumenep Buka Rekrutmen PPPK dan CPNS, Ini Formasi yang Dibutuhkan
Pendidikan2 tahun agoMahfud Sosialisasi Pendidikan Karakter, Bangun Kesadaran Generasi Muda
Rumpun2 tahun agoDi Pendopo Sumenep, Ratusan Anak Antusias Mengikuti Lomba Melukis dan Mewarnai
Opini2 tahun agoStatistik Kemiskinan
Opini2 tahun agoUpaya Mengelak dari Money Politics
Budaya2 tahun agoMerawat Budaya, Pemkab Sumenep Gelar Festival Klenengan Dolanan





















